Sepertinya Cak Imin Memang Istimewa bagi Jokowi

Jakarta – Pengamat komunikasi politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad menilai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar punya tempat istimewa sebagai salah satu bakal calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Joko Widodo di Pemilu 2019.

Dalam pandangan Nyarwi, keputusan presiden yang beken disapa dengan panggilan Jokowi itu mengumumkan nama Muhaimin lebih awal dibandingkan nama lainnya mengandung makna tersendiri. Padahal, Jokowi mengaku punya lima nama bakal cawapres.

“Kalau Jokowi tidak yakin dengan Cak Imin (panggilan kondang Muhaimin, red), mana mungkin disebutkan di awal?” kata Nyarwi, Senin (16/07).

Director for Presidential Studies (Decode) UGM itu menyebut Cak Imin punya posisi tawar kuat dengan tiga nilai plus. Pertama, politikus berjuluk Panglima Santri itu tak hanya memimpin PKB, tapi juga sebagai salah satu kader Nahdatul Ulama (NU) yang moncer.

Nyarwi mengatakan, NU merupakan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang punya posisi menentukan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sebab, NU punya massa besar sehingga bisa menjadi insentif elektoral.

Kedua, kata Nyarwi, selama ini Cak Imin juga muncul sebagai representasi Islam moderat sebagaimana NU. “Tentu ini menjadi nilai tambah untuk menjaring pemilih Islam,” lanjut Nyarwi.

Ketiga, Cak Imin punya rekam jejak dalam mengampanyekan kebangsaan dan kebinekaan. Rekam jejak itu bisa menjadi modal bagi Cak Imin bisa melengkapi Jokowi, sekaligus membawa insentif elektoral bagi Presiden Ketujuh RI itu.

Nyarwi mengatakan, Cak Imin bisa membawa sumbangan elektoral dari kalangan milenial dan muslim di perkotaan. “Kehadirannya (Cak Imin, red) sebagai Cawapres Jokowi sangat bermanfaat dalam mereduksi gelombang polarisasi politik yg mengancam keutuhan bangsa,” ujarnya.(Jpnn)