Sucoro Setrodiharjo Sang Inisiator Rawat Ruwat Borobudur

FOKUSINDONESIASATU.COM, Jawa Tengah_  Sosok yang sangat sederhana dan selalu terbuka kepada siapapun yg menemuinya, walau menyandang nama besar di dunia seni dan budaya namun Sucoro Setrodiharjo  atau lebih akrab dipanggil Pak Coro tidaklah lantas hanya duduk memerintah orang orang di sekitarnya untuk setiap kegiatan atau Event.

Seperti yg terlihat siang itu ketika kami menemuinya, bersama sejumlah seniman yg tergabung dalam acara Rawat Ruwat Borobudur 2018, Bapak 7 orang anak tersebut turun langsung mempersiapkan acara Festival Kesenian daerah yg digelar dalam rangka memperingati Hari Warisan Dunia di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

“Acara ini merupakan agenda rutin tahunan yg sudah kami lakukan sejak 15 th yg lalu, dan sebagai bentuk terima kasih kami kepada leluhur yg sudah mewariskan Candi Borobudur yg merupakan destinasi wisata yg luar biasa ini maka pada tgl 18 April 2018 nanti kami akan melakukan ritual Puja Agung dengan kirab bersama seniman yg tidak hanya berasal dari Magelang tetapi juga datang dari luar daerah bahkan ada yg datang dari luar negeri” demikian jelasnya tentang event Ruwat Rawat Borobudur atau RRB yg juga didampingi Bakir seorang seniman dari Kecamatan Pakis Magelang.

Lebih lanjut dikatakan sebagai Inisiator atau penggagas lahirnya RRB berawal dari keprihatinan terhadap Budaya masyarakat sekitar atau lokal yg sejak Candi Borobudur masih bernama Taman Purbakala Nasional memang sudah ada yg merasa tergeser dengan nama besar Candi Borobudur yg semakin punya nilai jual komersial sejak berubah menjadi Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan.

Karena itulah laki laki kelahiran 28 September 1953 itu memberikan ruang agar dalam pengembangan Candi Borobudur dapat selaras dengan Budaya masyarakat sekitar dengan membentuk acara RRB agar mereka tidak merasa terabaikan dan Alhamdulilah dapat tanggapan yg positif dari pihak TWCBP dengan ikut memfasilitasi kegiatan kami.

Ditemui di tempat yg sama Amat Sukandar yg juga merupakan penggerak suksesnya RRB mengatakan bahwa kami memaknai Candi Borobudur ini bukan hanya sebagai benda mati tapi lebih merupakan warisan adiluhung yg harus kita jaga kelestarian dan kesakralannya.

Di RRB inilah kita para seniman merasa punya ruang komunikasi dan tempat para seniman berkreasi bahkan tidak sedikit seniman kami yg sudah punya prestasi dunia.

Dan dipuncak acara tgl 18 April 2018 nanti kami akan menampilkan Sendratari kidung KARMA WIBANGGA yg merupakan karya yg selalu ada di Event RRB. Demikian jelasnya mengakhiri bincang kami.(Sri Rahayu).