Panglima TNI: KKB di Papua Terus Diburu

Bandung  – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memerintahkan pasukannya untuk terus mengejar pelaku kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua yang kabur ke hutan seusai diserang pasukan gabungan TNI dan Polri saat berlangsung pembebasan sandera.

Gatot menegaskan, dalam kasus seperti itu negara akan selalu hadir untuk melindungi waraganya. Dia menjamin tidak sejengkal pun tanah di Indonesia yang tidak aman selama polisi dan TNI ada.

“Terus lakukan pengejaran, tapi, fokus terhadap keselamatan sandera,” kata Gatot seusai memberikan orasi Ilmiah di Kampus Unisba, Kota Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Dia juga mengapresiasi sinergitas yang baik antara Polri dan TNI dalam operasi pembebasan sandera yang berlangsung menegangkan tersebut. Menurutnya, tim gabungan TNI dan Polri yakni Kopassus, Batalyon 751 Raider bersama kepolisian Indonesia melakukan kerja sama tim yang baik sesuai fungsi dan tugas masing-masing.

“Ini sangat luar biasa. Tempat yang sulit, tapi kita berhasil selamatkan tanpa ada yang cedera,” ungkap mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini.

Seperti diketahui, aparat gabungan TNI dan Polri yang berjumlah sekitar 200 orang berhasil mengevaluasi warga yang terisolasi di Kampung Kimberly, Banti dan Utikini, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika yang selama ini dikuasai kelompok kriminal bersenjata (KKB), Jumat (17/11/2017) sekitar pukul 11.00 WIT. Evakuasi dipimpin langsung Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar, Asops Kapolri Irjen Pol Iriawan dan Pangdam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI George Enaldus Supit.

Sebanyak 344 orang warga yang dievakuasi terdiri dari 104 orang pria dewasa, 32 wanita dewasa dan 14 anak-anak yang berasal dari kampung kimberly. Lalu 153 pria dewasa, 31 perempuan dewasa dan 10 anak-anak dari Kampung Banti dan Utikini. Mereka yang dievakuasi merupakan masyarakat non-Papua. Sementara, warga asli Papua di Kampung Kimberly, Banti, dan Longsoran, tidak bersedia dievakuasi. Namun begitu, mereka meminta jaminan perlindungan dari aparat keamanan, Polri dan TNI.

“?Perintah saya yang utama adalah keselamatan sandera, maka dilakukan benar. Karena kabut, mereka (KKB) melarikan diri dan bisa dikuasai. Setelah dikuasai, baru saya perintahkan Pangdam dan Kapolda datang ke sana untuk melakukan evakuasi,” tutur Gatot.

Sebelum aparat TNI dan Polri melakukan evakuasi warga, Gatot mengaku memerintahkan prajuritnya untuk memastikan keamanan jalan yang bakal dilalui untuk warga yang bakal dievakuasi. “Sebelum evakuasi saya perintahkan kiri kanan jalan harus aman. Kalau ada tembakan, jauh itu,” ujar dia.

Keberhasilan TNI dan Polri membebaskan warga dari isolasi KKB di papua ini mendapat apresiasi luas.

Anggota Komisi I DPR Bobby Rizaldy mengatakan, keberhasilan TNI dan Polri tersebut layak mendapat pujian. Namun, berhubung para penyandera belum ditangkap, dia menyarankan dilakukan operasi bersama untuk pengejaran.

Menyikapi masalah keamanan di daerah paling timur Indonesia tersebut, Bobby meminta pemerintah segera merumuskan formulasi keamanan. Dengan melihat peristiwa terakhir, definisi KKB menurut dia perlu diperluas. Karena berpotensi bereskalasi menjadi kelompok militer separatis, dia meminta Menko Polhukam me-redefinisi kelompok bersenjata di Papua.

“Karena sepertinya ini sudah bukan kriminal murni, sangat terorganisasi dan menimbulkan dampak teror yang luas dan terhubung dengan organisasi politik di luar negeri,” ujarnya kemarin.

Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran, Muradi mengatakan, aksi KKB yang menyandera ini bukan bermotif politik tapi lebih kepada ekonomi. Apalagi, jumlah KKB tersebut diperkirakan hanya sekitar 200 orang, tidak seheboh yang diperkirakan banyak orang.

Muradi melihat Polri dan dan TNI cukup jeli melihat latar belakang penyanderaan sehingga pendekatan persuasif yang dilakukan terbukti cukup efektif. Dia menyebut kesabaran aparat menjadi kunci keberhasilan pembebasan sandera ini. Dia juga memuji ketenangan Kapolda Papua serta Pangdam setempat yang mampu tenang untuk tidak melakukan manuver serangan. (Sindo)